May 1, 2017

Published 9:08 PM by with 0 comment

Lamunan Ujung jalan

Tiba saatnya kita sampai di ujung jalan,
Ketika hati bimbang tentukan tujuan,
Di kala mentari mulai tenggelam,
Tinggalkan bulan arungi malam yang kelam,

Tiba saatnya, ayun kaki tak lagi perkasa,
Di saat hanya kejenuhan yang tersisa
Menatap indah cakrawala pun getir terasa
Sanggupkah ia bertahan menggapai asa ?

Masih disini setia dalam lamunanku
Sembari menyeret pedih memikul pilu
Menantikan Dewi Fortuna datang membantu
Bimbang, tuk berhenti dan kembali atau terus maju ?

Okt 16
Beranda mimpi
Read More
    email this       edit

Apr 23, 2017

Published 3:19 AM by with 0 comment

Hari Bumi : Saatnya Untuk Dewasa Menangani Sampah

Kondisi ex.pelabuhan Buleleng yang terus dilanda sampah.
Disaat bising suara motor perlahan mereda digantikan oleh senandung suara jangkrik yang silih bersautan, aku pun kembali menuangkan isi pikiranku dalam tulisan ini. Secangkir kopi dan sedikit gorengan buatan ibuku hadir menjadi penghangat suasana menemaniku arungi imaji. Indah sekali terasa hidup di sebuah desa yang cukup jauh dari hiruk-pikuk kota, tanpa polusi, (tanpa gadget juga tak masalah). Andaikan kalian pernah merasakan hidup di desa tentu kalian bisa membayangkan perasaanku saat ini... srrruputt (nikmat kuhirup kopiku)
     Aku sadari betul perkembangan zaman yang cepat, sedikit banyak akan mengeser semuanya. Desa tak akan se-tentram dan damai seperti yang aku rasakan sekarang. Nyatanya kini, derap langkah pembangunan telah merambat ke desa-desa. Salah satu contoh Persuhaan-perusahaan, hotel dan villa mulai tumbuh subur di setiap sudut desa. Sambil menghirup kopi, Aku pun mulai bertanya-tanya, akan seperti apakah desaku kelak? Apakah pembangunan ini semua akan berpihak pada kemaslahatan warga desa secara keseluruhan? Terlebih lagi yang terjadi di desa atau tempat lain secara luas, apakah pembangunan akan mampu memberikan manfaat yang merata bagi manusia dan lingkungan dimana mereka tinggal? Sudah cukup dewasa kah masyarakat dalam menghadapi imbas dari pembangunan itu sendiri?
     Pertanyaan-pertanyaan itu serta-merta muncul setelah sebelumnya aku teringat bahwa hari ini adalah tepat peringatan Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2017. Berbicara soal Hari Bumi, berarti berbicara tentang keadaan Bumi kita saat ini. Sedikit serius bahasan kali ini ya? akibat dari kopi pekat tadi sepertinya hehe. bicara soal keadaan bumi tidak melulu tentang isu-isu yang saat ini hangat diperbincangkan seperti global warming, namun kita juga bisa melihatnya dari lingkup yang kecil. Kita bisa melihat dilingkungan sekitar kita sebagai cerminan kecil dari keadaan bumi kita saat ini. Di tempatku misalnya, betapa memprihatinkannya saat masyarakat di kabupaten Buleleng belum sepenuhnya sadar tentang peran fungsi sungai sebagai penyangga kehidupan. Buleleng dengan jumlah sebaran sungai yang cukup banyak harus rela kini sungai telah beralih fuingsi menjadi tempat sampah. Dari jarak 65 km dari rumahku ke kota singaraja saja terhitung ada hampir mencapai 100 aliran sungai. Ironisnya hampir disetiap jembatan dengan sungai dibawahnya penuh dengan tumpukan sampah pelastik. 100 bukan lah jumlah yang besar, karena kalian bisa dengan mudah menyebutkan tempat-tempat lain di lingkungan kalian yang memiliki masalah sampah yang sama. Bukan tanpa upaya, malah sudah banyak pihak yang  telah berusaha menangani masalah ini, namun hasilnya masih saja nihil.
     Aku jadi teringat dengan percakapan singkatku dengan seorang turis asing asal Hungaria yang bernama Ferow. Percapakan yang berlangsung di tengah perjalananku dari Lombok berlayar menuju Bali ini menjadi cambuk bagi ku. Bagaimana tidak, si bule ini menceritakan keluh-kesalnnya pada kita orang-orang pribumi yang dengan mudahnya membuang sampah kapanpun dan dimanapun tanpa mempeduikan dampak buruk yang mungkin saja terjadi. Muka ku memerah, kuping terasa panas, mendengar ocehan bule ini. Sambil menahan kekesalan ku karena kritikannya yang pedas, dengan sabar aku terus mendengarkannya sampai selesai. Akhirnya aku pun mengakui bahwasanya semua yang ia katakan memang benar adanya. Ia berbicara dengan bukti, laut yang penuh akan sampah plastik sepanjang perjalanan menjadi bukti. Yang lebih otentiknya lagi kami memergoki seorang anak muda yang dengan entengnnya melempar sisa botol minumannya ke laut sepersekian detik setelah ia habis meminumnya. Kami pun sepakat bahwa pada intinya masyarakat Indonesia belum dewasa dalam hal kesadaran akan lingkungan dan ditambah lagi peran pemerintahnya yan kurang menangani masalah ini.
      Sudah jadi rahasia umum bahwa masalah sampah plastik ini menjadi masalah kita baik di daerah bahkan di tingkat nasional. Memutus mata rantai ketidakdewasaan ini seolah sangat sulit dilakukan. Papan peringatan, teguran dan himbauan, bahkan sangsi tidak bisa membengkokan hati mereka yang sudah “lempeng” dengan mental bobroknya itu. Peran pemerintah juga dirasa sangat terbatas hanya bisa membuat aturan tanpa melakukan pengawasan yang ketat. Fasilitas penanganan sampah juga seakan dikesampingkan, lupa bahwa hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Di tempatku tinggal, slogan-slogan seperti “Buleleng bebas sampah pelastik” dirasa belum cukup membersihkan Buleleng dari sampah plastik. Perda Kabupaten Buleleng No. 1 Tahun 2013 tentang “pengelolaan sampah” Juga belum cukup menggentarkan niat para pembuang sampah nakal.
    Begitu kompleksnya masalah ini sampai harus memutar otak, memeras keringat untuk menyelesaikannya. Padahal hal ini sangat sepele bila dipikirkan dengan pola pikir sederhana, membuang sampah pada tempatnya tidak akan lebih susah dari mengenakan pakaian kita sendiri. Jika setiap orang bisa berpakaian rapi sudah semestinya mereka pun bisa membuang sampah pada tempatnya. Membuang sampah tak ada bedanya dengan memakai pakaian sebagai kebiasaan sehari-hari yang petut dibiasakan. Jadi, hanya orang yang tidak berpakaian sampai telanjang  telanjang bulat (seperti halnya orang gila) saja yang bisa diberikan toleransi tidak membuang sampah pada tempatnya.
     Membiasakan sesuatu menjadi sangat sulit bagi yang sudah memiliki kebiasaan yang kuat terpatri dalam dirinya. Akan sulit bagi para orang tua yang sudah punya kebiasaan buruk ini untuk dirubah. Sebaliknya, harapan masih terbuka untuk menanamkan kebiasaan baik pada para generasi muda. Maka solusi yang paling memungkinkan adalah mulai dari memberikan pendidikan kesadaran akan lingkungan sedini mungkin ditingkat keluarga maupun di pendidikan formal. Siapapun kalian entah itu orang tua, guru atau pun para generasi muda yang sadar akan pentingnya masalah ini, mari kita ajarkan kebiasaan baik pada anak-anak kita dalam hal berurusan dengan yang namanya sampah. Langkah-langkah berikut akan sangat ampuh bila diterapkan secara bersama-sama dan berkelanjutan dalam memberikan pendidikan pada anak kita.
1.    Sediakan Tempat Sampah
Anak-anak akan lebih mudah terbiasa membuang sampah jika tersedia temat sampah. Mereka akan mengingat dimana ia harus mencari tempat sampah dan membuang sampah yang ia punya.
2.    Buang sampah pada tempatnya
Masa anak-anak adalah masa pembentukan kebiasaan yang terjadi di aktivitas sehari-hari. Ibarat kertas mereka adalah kertas kosong yang akan lebih baik jika diisi dengan kebiasaan baik seperti membuang sampah pada tempatnya. Ajak mereka untuk membuang samah mereka pada tematnya. Akan lebih mengena jika kita memberikan contoh langsung kepada mereka, seperti saat berkendara tidak membuang sampah seenaknya dijalan.
3.    Kelola sampah dengn bijak
Tentu kalian sering mendengar istilah reuse, reduce, and recycle. Hal ini juga bisa kita ajarkan pada anak-anak kita dari hal-hal sederhana seperti menggunakan goody bag  saat belanja, Tupperware untuk menyimpan minuman, dan membuat kerajinan sederhana dari sampah plastic. 
4.    Tegur bila melakukan kesalahan
Yang terakhiar adalah bagaimana pengawasan kita pada mereka karena menerapkan kebiasaan harus dilakukan secara berkelanjutan. Penting bagi mereka untuk mengetahui kesalahan mereka agar terpatri dalam benak mereka mana yang baik dan mana yang benar. 
Demikian tulisanku untuk Hari Bumi, Semoga saja bia menginspirasi untuk bumi yang lestari. Kalau ada yang punya solusi lain yang lebih ampuh boleh dishare juga :)  :D


22 April 2017
Di atas bangku depan rumah
Read More
    email this       edit

Apr 12, 2017

Published 11:08 PM by with 0 comment

Aku dan PPT (Para Pencari Toga)

        Sudah mengakar rasanya pantatku di lantai teras ini, kalau dihitung seberapa lamanya aku duduk di sini. Sudah memperihatinkan keadaan kedua bola mataku, yang tak kunjung aku istirahatkan untuk terus memandangi layar laptop usangku. Sudah hampir kekar tanganku pula ini bila ditimbang berapa banyak kata dan kalimat yang aku tulis berhalaman-halaman. Namun, seberapa banyak pun juga kata-kata tersebut rasa-rasanya tidak ada lagi yang bisa menggambarkan betapa bosannya aku sekarang. Kalau saja ada kata yang memiliki makna melebihi dari makna kata bosan atau muak, bisa jadi begitulah perasaanku saat ini. Ya, aku sudah sangat bosan menjalani rutinitas sebagai mahasiswa tingkat akhir dengan tumpukan tugas berupa proposal, instrument dan sekutu-sekutunya. Di teras depan sekretaiat UKM, di tengah hiruk-pikuk kehidupan para manusia pencari toga inilah aku habiskan waktu untuk bergulat dengan semua tugas itu. Dari mulai hari masih terang, perlahan berganti gelap, dan sampai hari kembali terang aku masih disini. Tampak terlihat raut-raut muka bosan dari orang-orang yang datang dan pergi, mungkin mereka bosan melihat sesosok mahasiswa ‘tua’ yang tidak mengenal waktu.
        Dari phenomena mahasiswa tua ini, aku berpikiran bahwa "Waktu" memang sangat cepat berlalu. Tidak terasa begitu lamanya aku duduk disini. Rasanya baru beberapa menit yang lalu aku baru menyalakan laptop usang ini, nyatanya sudah hampir 2 hari pantatku bercokol mantap diatas singgasana ini. Aku yakin tidak sedikit yang pernah merasakan betapa singkatnya waktu seperti yang kualami sekarang. Sering juga aku temui orang entah itu kawan sejawat ataupun para orang tua yang sering mengungkapkan kepada ku betapa singkatnya waktu telah berlalu. Aku ingat ada seorang ibu-ibu seumuran nenekku, Aku biasa memanggilnya Bi Dedeh. Setelah sekian tahun lamanya tak bertemu, betapa kagetnya ia dengan keadaanku saat aku temui ia pada kesempatan mudik kala itu. “Subhanallah, eleuh-eleuh... kamu teh bener si wahab cucunya aki mansyur? Udah besar kamu ya… tinggi sekali euy, sepertinya teh baru kemarin kamu saya gendong-gendong” ungkapnya penuh dengan keheranan. “Terus sekarang mau gendong saya lagi Bi ?” candaku, disambut dengan gelak tawa.
        Teringat akan kejadian itu, aku pun semakin merasa singkatnya waktu yang aku lewati dalam kehidupan pribadiku. Aku teringat masa-masa dimana bermain masih memenuhi hari-hariku kala itu. Di sebuah kampung kecil jauh dari hiruk-pikuk kota tepatnya. Aku masih ingat betul suasana panen raya disana, bagaimana gatalnya bermain diatas tumpukan jerami, tajamnya sisa-sisa tanaman padi di lahan sawah kering yang kami jadikan lapangan bola, atau lezatnya belalang goreng yang aku tangkap, olah, dan santap sendiri. Perasaan senang nikmat dan bahagianya masih teringat betul seolah baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. Oleh karenanya, tidak heran kalau Bi Dedeh tadi sampai mengekspresikan keheranannya seheboh itu.
        Aku kemudian berakhir pada kesimpulan bahwasanya memang benar adanya, waktu berlalu begitu singkat. Kesimpulan pun berujung pada kesadaran bahwa betapa singkatnya usia hidup rata-rata seorang manusia bila dibandingkan dengan waktu yang sudah dan terus akan berjalan. Kisahku dan Bi Dedeh tadi adalah contoh kecil yang menunjukan betapa singkat dan berharganya waktu yang kita miliki. Kini aku sadar banyak hal telah Aku lalui. Mimpi-mimpi yang tidak terwujud, yang sudah terwujud atau pun semuanya telah aku lalui tanpa disadari. Aku yang rasanya baru beberapa hari yang lalu, tidak lebih hanya seorang bocah ingusan kini telah beranjak dewasa. Lebih jauh lagi, masa- masa OKK (orientasi kehidupan kampus) yang rasanya baru kemarin aku lalui, kini aku disibukan dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa akhir dan bersiap untuk lulus sebagai seorang sarjana (amin). Bersyukur semua berjalan lancar dan cepat pikirku. Impianku dulu pun akan segera terwujud dan Aku harus siap untuk beralih dengan impian-impianku yang baru telah aku rangkai. Impian yang menjadikan aku semangat menjalani hidup yang singkat ini.
        Tidak terasa hari semakin terang saja, suara motor para pejuang toga kembali meramaikan suasana kampus, dan aku pun harus segera bersiap untuk pergi ke sekolah untuk mengajar mengingat aku mahis harus menyelesaikan PPL-REAL. Aku pun harus mencukupkan dulu dengan skripsinya, aku akan lanjutkan lagi nanti. Begitu pula dengan tulisan ini, aku sudahi dulu dan sampai jumpa lagi di lain WAKTU.





13 April 2017
Di  teras depan Sekretariat MPA LS
Read More
    email this       edit

Dec 31, 2016

Published 9:42 AM by with 0 comment

Menunggumu

Menunggu itu melelahkan...
Aku pernah menunggu datangnya kereta
Kupandangi rel nya sampai tak kulihat lagi ujungnya, muak sekali rasanya
Aku pun pernah putus asa menanti kapankah sampai di puncak,
Pijakan kaki bagai sesosok monster yang mengerikan untuk kutapaki,

Tapi menunggumu menjadi hal yang berbeda,
Aku rela menunggu untukmu,
Kunikmati setiap menit bahkan detiknya,
Meski aku belum tahu pasti sampai kapan dan seperti apa akhirnya,
Namun yang aku tahu pasti aku kan sedia menunggumu,

3 Desember 2016
Puncak Lesung 1865 MDPL
Abd Whb

Read More
    email this       edit

Dec 19, 2016

Published 9:54 AM by with 0 comment

Aku, Gunung Agung, dan Jengkol

Akhir pekan ini, aku menyempatkan untuk pulang ke rumahku di desa untuk sekedar melepas rindu dengan keluarga, khususnya ibuku yang baru pulang benjenguk nenek yang sakit di kampung halaman, Karawang. kepulangannya membawa angin segar bagiku. Seharian ini siang dan malam aku dimanjakan dengan oleh-oleh makanan khas sunda, Jengkol yang dibawakan ibuku dari sana. Ibuku memasaknya spesial untukku yang sudah lama tidak mencicipinya, mengingat makanan ini jarang ada di sini. Mungkin lidah sunda yang kupunya yang membuat tidak ada kata bosan saat aku memakan jengkol. Pola makanku yang sudah tak teratur menjadi semakin tak teratur saat bertemu jengkol, hahaha. Tidak terhitung sudah berapa kali aku bolak-balik ke dapur untuk makan, tak terhitung pula keping jengkol yang aku lahap dengan olahan yang berbeda-beda. Hal ini akan terdengar aneh bagi sebagian orang yang tidak suka jengkol, khususnya teman-temanku di Bali. Lidah mereka tidak terbiasa dengan makanan beraroma menyengat ini. Tapi aku tidak peduli, mataku menjadi gelap seketika melihat semua masakan jengkol ini di rak makan. Yang aku tahu adalah seharian ini aku tidak akan pernah bosan dengan jengkol.

Kisahku dan jengkol hari ini, membuatku berpikir sejenak bahwa betapa aku sering melakukan hal yang sama berulang kali tanpa merasa bosan. Aku penasaran apakah orang lain pun pernah melakukan hal yang sama berulang-ulang kali tanpa ada rasa bosan hinggap dan sebaliknya malah mendapatkan kepuasan tersendiri? Kalau pernah, mungkin itu yang dinamakan dengan hobi. Aku yang duduk di lantai dapur sambil mengelus-elus perutku yang terisi penuh dengan si jengkol ini lalu teringat akan salah satu hobiku yang tak kalah aneh dengan jengkol tadi. Mendaki gunung, kegiatan ini telah menjadi hobiku sejak aku kuliah di UNDIKSHA dan bergabung dengan Mapala Loka samgraha, klub pecinta alam disana.

Seperti kisahku dan jengkol, tidak ada kata bosan bagiku untuk mendaki gunung. Hobiku ini telah menjadi candu bagiku. Setiap libur panjang, libur semester, atau hanya libur akhir pekan selalu aku sempatkan untuk mendaki. Meski belum begitu banyak pengalamanku dalam mendaki gununga, tapi pernah aku alami berbagai pengalaman unik dalam mendaki. Pernah aku mendaki 5 kali dalam kurun waktu 1 bulan tanpa rasa bosan dan lelah. Pernah pula aku mendaki gunung yang sama sebanyak 3 kali, gunung itu adalah Gunung Agung. Memang belum seberapa sih hehe, tapi buat orang orang disekitarku yang tidak pernah naik gunung selalu bertanya-tanya apa aku tidak bosan. Bosan ? aku rasa tidak, karena aku yakin dan memang demikian bahwa meski di gunung yang sama pasti kita akan mendapatkan suasana yang berbeda tak peduli berapa kali aku mendakinya. Coba mengutip perkataan soerang forest gump di filmnya yang mendeskripsikan tentang kehidupan “life was like a box of chocolates, you never know what you're gonna get” aku pun berpikiran bahwa gunung pun demikian adanya. Setiap aku mendaki past saja ada sensasi baru yang aku dapat, entah itu pemandangan, nilai moral, hal yang mengharukan, atau bahkan hal konyol yang akan terus mengundang tawa bila diceritakan. Gunung Agung yang bisa meyakinkan aku untuk berpikiran demikian. Meski baru 3 kali aku sampai di puncaknya, tapi kenangannya tidak akan habis diceritakan kawan. Di mulai dari upayaku yang terus gagal untuk mendakinya saat berbagai macam halangan yang datang, sampai akhirnya bisa berdiri di puncak tertingginya. 
Aku di jempol kaki Gunung Agung
Semua bermula pada tanggal 26 oktober 2014 saat itu aku diundang untuk hadir dalam acara pendidikan dasar sispala di Kubu, Karangasem. Tempatnya yang strategis berhadapan langsung dengan gunung yang satu ini kalau aku bilang sebagai jempolnya Gunung Agung. Megahnya puncak tertinggi Bali ini membuatku berpikir untuk mendaki gunung ini, namun masalahnya aku masih ragu dengan kemampuanku untuk berdiri disana. Sampai dimana aku merasa sanggup pun, impian itu belum juga terwujud. Kemudian, rencana awalku untuk mendaki Gunung Agung  pada tanggal 15 november 2016 sebulan kemudian pun berakhir gagal, karena ada persembahyangan.
Wajah lesu kami di Polsek Selat akibat gagal naik Gunung Agung
Pengalaman konyol itu  sepertinya buah dari kesombonganku yang akhirnya juga berangkat untuk mendaki Gunung Agung. Aku dengan sombongnya menggoda salah seorang ibu penjual jagung bakar di pinggar jalan. Bagaimana mungkin teriakannya dalam menjajakan jagung bakar aku jadikan bahan olok-olokan. “Jagung…. jagung… jagung…” teriakannya memanggil pembeli aku jawab seenaknya “iya bu saya mau ke agung” teman-temanku pun mentertawaiku. Akhirnya kami kualat dan gagal mendaki. Maafkan aku ibu penjual jagung.
Tanggal 1 Januari 2015 di Gunung Agung

Rupanya Tuhan berkehendak lain aku akhirnya bisa mendaki Gunung Agung untuk pertama disaat yang sepesial di malam pergantian tahun baru 2015. Dari atas aku menyaksikan langsung pesta kembang api di sebagian luas wilayah Bali. Luar biasa pkirku saat itu.  Sayang tidak ada kamera bagus yang bisa menagkap moment itu, tapi tidak dengan mataku yang merekam moment langka ini. Suasana indah awan yang bertebaran di bawah kami juga melengkapi pendakian saat itu.


Lain halnya dengan pendakian kuyang kedua, waktu itu aku mengantarkan kawan-kawan Mapala Garba Wira Bhuana yang sedang melakukan ekspedisi. Kami mengantarkan mereka ke Batur an Agung sekaligus. Walaupun diguyur hujan terus-menerus, banyak moment indah yang aku dapat.  Sunset yang cantik, saat kami memutuskan untuk bermalam di Telaga Emas.
Candid sambil menikmati sunset
Pengalaman unik dan langka saat kami bertemu dengan rombongan orang yang sembahyang. Mereka lengkap dengan pakaian adatnya sembahyang menuju puncak dengan membawa sesajian yang lengkap.  Yang paling tidak disngka-sangka kami melihat mereka membawa hewan persembahan yang masih hidup. Ada Angsa, Ada pula anak kambing yang digendong di pundak, dan bahkan ada juga kerbau yag ditarik dan didorong menanjak melewati trek yang sangat terjal. Awalnya aku tidak percaya dan mengira itu mimpi, tapi akhirnya sadar bahwa itu nyata, setelah mendengar bunyi kambing dan kerbau itu. Kami tak habis pikir bagaimana mereka bisa membawanya sampai ke atas sana. pastinya membutuhkan perjuangan yang keras.
Kerbau ini yang membangunkan kami
Setelah sampai dipuncak pun kami beruntung bisa mendapatkan pemandangan yang luar biasa indah. Sungguh alam tidak bisa diprediksi, hujan yang tak hentinya mengguyur kami di perjalanan berhenti segera setelah kami sampai di puncak. Kami yang semula hanya ingin sampai dipuncak saja mendapat bonus pemandangan yang indah. langit seketika cerah, kami bahkan bisa melihat puncak Rinjani di pulau Lombok sebrang.
Gunung Rinjani terlihat mengintip
Yang terakhir pada bulan kemarin aku kembali mendaki gunung Agung bersama kawanku dari Mapala Brimpals, Palembang. Pendakian kali ini kami mencoba meraih puncak sejati via Pura Pasar Agung. Setelah dua kali mendaki hanya puas dengan puncak Pasar Agung, akhirnya aku bisa sampai di puncak Sejati Gunung Agung. Meski pemandangan di puncak tidak cukup bagus karena kabut, melalu jalur ini aku menemukan ladang bunga edelewis, sang bunga abadi.
Edelweis
Suasana perjalanan pun sangat berkesan. Hanya kami yang melewati jalur ini saat itu, karena memang belum ada yang banyak mengetahui jalur ini.
Hanya kami berempat dan beberapa monyet gunung

Akhirnya puncak sejati

Aku tidak tahu kapan akan menginjakan kakiku disana lagi. Rasa kangen selalu hinggap jika diingat-ingat suasana saat mendaki gunung ini. Rasa penasaranku pun tak pernah habis akan gunung ini. Apalagi ada beberapa jalur pendakian Gunung Agung lain lagi yang belum pernah aku coba. Sepertinya aku harus mencoba jalur –jalur pendakian itu lain waktu. Ya, aku ingin dan harus mendaki gunung Agung lagi. Apa tidak bosa ? Sekali lagi, jangan pernah tanyakan pertanyaan itu padaku, karena jawabannya jelas tidak, hehehe. Kalau pun aku berhenti sejenak karena itu hanya karena lelah, segera setelah kondisiku membaik aku siap untuk pendakian selanjutnya. Tidak jauh beda dengan kisahku dan jengkol hari ini, karena segera setelah tulisan ini selesai, aku akan lanjutkan kisahku itu mengingat perutku kembali lapar. Semur Jengkol aku datang.

Dapur Rumah
Minggu, 18 Desember 2016
Read More
    email this       edit
Published 9:33 AM by with 0 comment

Gunung Batukaru yang Bersahaja

Aku masih di sini di teras depan sekretariat kami menunggu hujan reda malam ini. Gemericik hujan rintik-rintik seakan menjadi irama pengantar menuju malam yang sunyi. “seruput” merdu bunyi kopi yang kuteguk pun menjadi pelengkap irama rintik hujan. Sambil menikmati kopi khas banyuatis di malam ini kupandangi hujan yang tak kunjung reda sedari tadi siang. Lama sekali hujan ini pikirku. Kadar kafein yang pekat dan has dari kopi menyadarkanku bahwa memang sudah saatnya musim penghujan akhir tahun 2016 tiba. Tak terasa sudah akhir tahun saja rupanya. Terlintas dalam benakku lembaran-lembaran kisah hidupku selama setahun ini. Semakin kuingat-ingat, semakin asyik pula kuteguk kopiku. “Serrrruuuppuuut” ku teguk lagi kopiku lebih dalam.
Aku yang tak bisa kemana-mana ini semakin khusuk  saja memandangi rintik hujan sambil membayangkan pengalaman selama setahun kebelakang. Rintik hujan perlahan turun ke ranting-ranting, membasahi dedaunan di pohon lalu kemudian jatuh menggenang di tanah. Hangatnya kopi dan pemandangan yang kusaksikan ini tidak disangka telah membawaku jauh terlempar dalam kenangan manis sebuah pendakian yang telah aku lakukan. Pendakian yang dimaksud adalah pendakian Gunung Batukaru via Pujungan awal tahun ini.  
Persiapan turun dan pembersihan jalur
Suasananya sama persis seperti sekarang ini, hujan sepanjang hari sampai malam, pepohonan dan tanah semua basah. Suhu terasa dingin, hanya kopi ditanganku yang hangat. Sepertinya Gunung dengan ketinggian 2.475 mdpl ini telah mendapatkan tempat khusus di benakku. Gunung kedua tertinggi di Bali ini telah menyimpan kenangan yang indah di balik hutannya yang lebat. Memang, setiap aspek dari gunung yang terletak di Kabupaten Tabanan ini bisa memberikan kekaguman tersendiri pada orang yang menikmatinya. Ada banyak hal menarik yang bisa kita alami saat mendaki gunung ini, mulai dari ke asrian hutannya, ramahnya penduduk sekitar kaki gunung, situs pura (tempat persembahyangan umat hindu) yang disucikan, dan trek terjalnya yang cukup menantang. Semuanya itu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi orang yang mendakinya.
Salah satu patung kuno

Sudah dari zaman dulu kala, gunung yang dulu menjadi tempat bertapa orang-orang suci memang punya tempat tersendiri di hati masyarakat sekitar gunung dalam hal ini masyarakat Kab.Tabanan. Terbukti bila kita lihat lambang Kab. Tabanan terdapat gambar gunung ini sebagai latarnya. Gunung non aktif ini nyataannya telah memberikan kehidupan bagi masyarakat sekitarnya dengan sumber mata air dan sumber daya alam lainnya yang disediakan. Saat aku mendaki gunung ini terlihat jelas dimana hasil alam yang melimpah berupa perkebunan dan hasil hutan lainnya telah membantu kehidupan masyarakat disana. Alam dalam hal ini Gunung Batukaru telah menyediakan kebutuhan hidup mereka. Diantara gunung-gunung lain di Bali, gunung yang satu ini merupakan salah satu gunung yang masih asri hutannya. Salah satu penyebabnya adalah masih sedikit orang yang mendaki kesini dibandingkan dengan gunung lain seperti halnya Batur dan Agung. 
Trek yang jelas meski kanan kiri pohon lebat

Hal lain yang memberi kesan dari gunung ini ialah penduduk sekitar gunung yang bersahabat.  Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bahwa warga pedesaan yng tinggal di kaki gunung pasti ramah dan bersahaja dengan pendatang atau tamu. Ya, tak terkecuali dengan warga di sini. Aku punya pengalaman menarik dengan warga disini yang mendasari pandanganku tentang mereka. Pertama kali aku mendaki disini, aku turun dengan kondisi yang capek mengingat pendakian itu merupakan survey sekaligus aksi kecil-kecilan membersihkan sampah di gunung. 
Orang-orang kurang kerjaan :D

Hujan yang terus menerus semakin menambah berat beban barang bawaanku, ditambah gendolan sampah sebanyak 3 buah trash bag besar. Dan bagian yang mengharukan adalah disaat kami sampai dan istirahat di parkiran motor, seorang pemangku pura tanpa diminta membawakan kami 3 keranjang besar berisi makanan berupa buah-buahan, roti, telur dan makanan lainnya. Sambil melontarkan senyum tulusnya ia mempersilahkan kami untuk menikmati suguhan itu. Kawan-kawanku yang kecapekan dengan kondisi pakaian yang hancur lebur setelan khas ala pendaki gunung yang sudah berhari-hari di hutan, dengan lahap menikmati pemberian itu. Saat itu yang kupikirkan bukan pada pemberiannya. Meskipun aku tahu makanan itu adalah ‘lungsuran’ (makanan yang dipersembahkan untuk sebuah persembahyangan), namun aku melihat niat tulusnya yang bahkan masih berpakaian adat, hujan-hujanan, masih sempat ia memberikan makanan itu. Sungguh pengalaman yang mengharukan.
Makan boleh, tapi inget nafas
Satu hal lain yang lagi-lagi membekas dihatiku tentang Batukaru ini adalah suasana religious kental terasa. Bila mendaki gunung ini lewat Desa Pujungan, maka kita akan menemui Pura Besar yang satu terletak dikaki gunung sebelum mulai mendaki bernama Pura Malen dan kedua ada di Puncak yaitu Pura Pucak Kedaton. 

Sering diadakan persembahyangan disini. Hampir setiap hari , ada saja Umat hindu di seluruh Bali yang terlihat melakukan persembahyangan di sini. Dan pendakian pertamaku saat itu pun bertepatan  dengan hari besar bagi umat hindu saat itu yakni hari raya Siwa Ratri. Hari raya dimana umat hindu melakukan persembahayangan kepada Dewa Siwa, biasanya mereka tidak tidur semalaman. Kalau kalian tahu bagaimana rasanya pergi ke pesta dengan salah kostum, begitu lah yang kami rasakan kala itu. Orang-orang berpakaian putih-putih lengkap dengan perlengkapan persebahyangan telah memadati area parkiran dan halaman pura. Berbondong-bondong ada yang menunggu giliran, ada yang bersenda gurau dengan keluarga dan ada pula yang sedang makan sambil bercengkrama. Sedangkan, ketika pandangan diarahkan ke kami, sebaliknya pemandangan berputar 180 derajat. Kami dengan setelan khas pendaki gunung kere, dengan cerier 85 L isi full kokoh dipundak kami bersiap-siap untuk mendaki. Kami merasa kikuk awalnya saat semua mata tertuju ke arah kami, namun segera kami membiasakan diri. 
Bersama bapak pemangku, alumni sispala Prana Giri, cerrier kami, sampah plastik dan makanan yang sudah masuk ke perut :D
Itu lah yang terjadi saat itu. Mereka umat hindu melakukan persembahyangan di pura-pura yang ada di sana termasuk Pura Puncak Kedaton, di puncak Gunung Batukaru. Jadi sepanjang perjalanan kami beberapa kali menemui orang berpakaian adat, baik ia yang turun dan telah selesai sembahyang ataupun yang baru akan naik kepuncak. Uniknya mereka kepuncak dengan pakaian sembahyang seadanya dengan sandal dan kamben, sangat berbeda dengan kami. Bahkan, sampai di puncak pun kami habiskan malam bersama beberapa diantara mereka yang ‘mekemit’ (bergadang) di pelataran pura. Aku ingat betul sesekali kami saling diskusi dan sekedar berbagi kopi dan snack. Lelah dan pegal akibat trek yang terjal pun lumayan terobati dengan hangatnya diskusi kami kala itu. Betapa malam itu menjadi terasa khidmat sekali, hujan gerimis pun menjadi tidak terasa. Sungguh merupakan pengalaman pertama yang aku alami, mendaki dengan suasana religious yang kental terasa di Gunung Batukaru.

Itulah momen-momen yang terekam dalam ingatan tentang pengalamanku bersama Gunung Batukaru. Cukup berkesan untuk mengenalkanku lebih jauh tentang Bali dan keindahan alam dan budayanya. Dari gunung ini bukan hanya kepuasan sesaat akan keindahan sunset atau sunrise yang orang-orang cari saat mendaki gunung, tapi lebih dari itu nilai-nilai kehidupan banyak aku dapatkan. Bila ditarik satu garis kesimpulan, dari Gunung Batukaru aku belajar satu konsep umat hindu di Bali yaitu “Tri Hita Karana” yang berarti hubungan yang saling berkaitan antara manusia, alam, dan Tuhan. Bila kita mampu menjaga hubungan tersebut dengan baik maka hidup akan terasa harmonis tentunya, kurang lebih seperti itu. Bila diingat-ingat kembali, kangen juga untuk mendaki kesana. Meski sudah 2 kali kesana, sepertinya aku tidak akan pernah bosan untuk kesana lagi lain waktu. 
Abaikan gaya rambut kami
“Srupuutt….putt…putt…” akhirnya aku tiba pada tegukan terakhir kopiku dan hanya menyisakan ampasnya yang menumpuk di dasar gelas. Hujan pun mulai reda hanya menyisakan tetesan-tetesan air hujan di dedaunan pohon depan halaman. Lamunanku tentang Gunung Batukaru pun berakhir pula, hanya menyisakan aku yang terduduk sendiri di teras ‘kandang’ (sebutan khas untuk sekretariat Mapala Lokasamgraha UNDIKSHA). Selain membuat badan hangat, sayangnya kini aku terkena efek lain kafein kopiku tadi. Aku menjadi tidak ngantuk meski jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Akhirnya kembali kubiarkan, imajinasiku melayang jauh lagi menembus malam, mengingat momen-moment menarik selama setahun ke belakang. Tidak ada kopi lagi yang menemani, namun kali ini gitar yang menyertaiku.

16 Desember 2016
Teras depan Sekretariat MPA LS UNDIKSHA
Read More
    email this       edit

Nov 9, 2016

Published 11:13 AM by with 0 comment

Taman Baca Terpadu: Akselelator Pendidikan di Pelosok Desa

Pernahkah kita berpikir bahwa tidak cukup kaya kah Indonesia untuk membiayai pendidikan di setiap penjuru negerinya ? Pertanyaan lain yang mengusik benak kita adalah kenapa di umurnya yang ke 72 tahun Pendidikan di Indonesia masih belum merata secara menyeluruh ? Indonesia sebagai negara yang kaya semestinya tidak akan mengalami kesulitan dalam membiayai pendidikan dan meratakannya sampai ke pelosok negeri. Semua orang bahkan dari negara lain pun mengakui akan melimpah ruahnya kekayaan sumberdaya alam Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia adalah negara yang kaya. Tercatat sejumlah 20 % dari APBN dianggarkan untuk biaya pendididikan. Jumlah yang fantastis untuk sebuah negara berkembang. Namun mirisnya, sudah menjadi rahasia umum pula bahwa Indonesia merupakan negara berkembang yang masih memiliki daerah-daerah tertinggal dengan pendidikan yang masih terbelakang. Angka menunjukan kenyataan bahwa tingkat buta huruf di Indonesia masih sangat membumbung tinggi, yaitu sebanyak 3,56 persen penduduk Indonesia atau sebanyak 5,7 juta orang masih buta aksara. Angka yang sungguh disayangkan.
Tidak sulit rasanya untuk memajukan pendidikan apabila pemerintah mampu mengerahkan tenaga semaksimal mungkin dan mengoptimalkan pembangunan dalam bidang pendidikan. Manajerial yang lemah lah yang menjadi poin permasalah. Inilah yang menjadi PR kita bersama. Tugas Pemerintah pusat dalam mengelola anggaran demi melaksanakan pembangunan pendidikan yang efektif. Tugas kita pula sebagai masyarakat secara umum untuk ambil bagian dalam mengawal kinerja pemerintah. Kalau memang pemerataan pendidikan terhambat oleh birokrasi yang berbelit, kemampuan manajerial yang lemah dari pemerintah pusat, kenapa tidak kita mulai dari Desa.
Desa diibaratkan sebagai sebuah akar yang menentukan kokoh tidaknya sebuah negara sebegai batang pohonnya. Dengan memaksimalkan fungsi dan potensi desa-desa diseluruh penjuru negeri, maka Indonesia hanya tinggal menunggu waktu untuk memanen hasilnya. Indonesia akan menjadi negara yang kaya tentunya. Desa bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi dengan syarat pemerintah pusat mau mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Ironisnya sekian banyak potensi telah terabaikan dengan alasan terhalang dana yang tidak memadai. Salah satu dari sekian banyak potensi yang disayangkan belum dimaksimalkan ialah sumber daya manusianya (SDM).
Terkhusus di desa 3T (Terdepan, terpencil dan tertinggal) di seluruh Indonesia, pendidikan sebagai bentuk nyata dari upaya peningkatan SDM masih menjadi barang langka untuk diperoleh. Namun, akhir-akhir ini pemerintah memberi angin segar dengan adanya program 1 Miliyar untuk desa. Harapan pun mulai terbit dan menyinari keputusasaan masyarakat desa khususnya di desa 3T. Pemerintah telah menyiapkan dana desa tahun ini, dengan total nominal yang direncanakan sebesar Rp 20,7 triliun. Beberapa diantaranya sudah didistribusikan langsung ke desa. Dana yang difokuskan pada tiga poin penting yakni pembangunan yang meliputi infrastruktur, pendidikan dan kesehatan ini diambil langsung dari APBN. Dana ini nantinya diharapkan dapat dikelola secara mandiri langsung oleh desa terkait.
Adanya program dana desa ini mestinya menjadi peluang yang bagus untuk mempercepat geliat pendidikan di desa 3T. Namun, yang menjadi pertimbangan lain adalah membangun suatu sistem pendidikan yang baik tidaklah mudah. Semuanya harus dilakukan secara bertahap. Dana sebesar itu pun belum lah cukup untuk mancangkup setiap aspek pendidikan baik itu dari segi fasilitas penunjang pendidikan ataupun tenaga pendidik yang berkualitas. Dalam kasus di desa 3T dana sebanyak itu masih belum cukup untuk membangun pendidikan yang bisa dibilang dari ‘nol’. Maka dari itu, perlu direncanakan strategi yang tepat untuk memanfaatkan dana itu agar lebih effektif penggunaannya.
Memperhatikan skala prioritas dalam pengelolan dana desa  ini sangatlah diperlukan, mengingat tidak semua dana yang dikucurkan diperuntukan untuk pendidikan. Pemerintah di desa pun perlu bersinergi dengan seluruh elemen masyarakat dalam membangun pendidikan dengan dana ini. Setidaknya sebagian dana yang disisihkan cukup untuk merangsang percepatan pembangunan pendidikan. Rangsangan tersebut bisa dalam bentuk sebuah wadah pendidikan yang bisa menarik simpati elemen masyarakat lainnya untuk berpartisipasi aktif membantu. Tidak muluk-muluk membangun pendidikan di daerah 3T bisa dimulai dengan membangun sebuah Taman Baca  Terpadu. Ini merupakan Hal yang kecil namun sejatinya adalah hal mendasar bagi pendidikan di desa. Dengan adanya Taman Baca Terpadu ini akan memberikan rangsangan bagi setiap elemen masyarakat bahwa pendidikan itu penting. Dari sanalah akan timbul partisipasi aktif dari masyarakat untuk memajukan pendidikan di desanya.
Lalu kenapa harus berupa taman baca yang mejadi pilihan ? Sejauh ini bila ditilik lebih jauh lagi dari kebutuhan masyarakat Indonesia secara umum taman baca adalah pilihan utama. Saat ini minat membaca masyarakat Indonesia sangat lah rendah, begitu pula halnya dengan para anak-anak. Pada tahun 2011, UNESCO telah melakukan survey terhadap minat baca masyarakat Indonesia. Hasilnya sangat mengejutkan, minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 persen. Ini berarti dari seribu masyarakat, hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat membaca. Padahal kita tahu bahwa kemampuan literasi merupakan salah satu indikator  kemajuan pendidikan di suatu negara. Kemudian jumlah fasilitas yang mendukung dalam meningkatkan minat baca pun sangatlah minim. Jangankan di pelosok desa, di Kota yang sudah maju saja, jumlah perpustakaan bisa dihitung dengan jari. Jumlah yang jauh bila di bandingkan dengan jumlah pusat perbelanjaan atau tempat hiburan lainnya. Sungguh menyedihkan sekali kondisi ini.
Alasan lain dipilihnya taman baca sebagai solusi percepatan pembangunan pendidikan ialah pebiayaan yang terjangkau dan realistis. Dana yang terbatas semakin menguatkan pilihan untuk membangun sebuah taman baca. Bila dibandingkan dengan membangun sebuah sekolah dengan fasilitas lengkap di sertai dengan tenaga pengajar yang berkualitas jauh sangat berbeda. Dana yang dihabiskan akan sangat melambung, sedangkan hasil yang diperoleh belum tentu sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Perlu diingat kembali bahwa dana desa untuk pendidikan pun dibatasi. Selain itu dari segi pengelolaan, taman baca ini tidak terlalu menguras upaya yang keras. Koleksi buku bisa disirkulasikan dengan taman baca dari perpustakaan lain. Kemudian dari segi pelaksanaanya, kedepan taman baca ini bisa dikembangkan menjadi pusat pembelajaran yang mengasyikan bagi anak-anak di pelosok. Oleh karenanya wadah ini diberi nama dengan Taman Baca Terpadu. Taman baca ini selain menyediakan buku-buku yang menarik untuk dibaca, juga menyediakan fasilitas taman bermain dan juga fasilitas penunjang lain seperti computer. Dengan demikian minat membaca khususnya bagi anak-anak di pelosok akan meningkat.
Kalau selama ini kita dipusingkan dengan permasalahan tentang buruknya sistem pendidikan formal di negeri ini, kenapa tidak kita perbaiki pendidikan melalui pendidikan informal? Pendidikan informal bisa menjadi lebih baik dari informal tergantung pada bagaimana kita mengelolanya. Sudah banyak bukti tentang kualitas lembaga pendidikan informal yang dibangun oleh pihak swasta.  Dengan menggandeng instansi lain atau LSM yang bergerak di dunia pendidikan stok buku berkualitas akan sangat mudah diperoleh. Ya, tidak hanya minat masyarakat dalam membaca meningkat, taman baca ini dapat merangsang elemen masyarakat lain untuk berpartisipasi aktif mensukseskan akselerasi pembangunan pendidikan di desa 3T.
Bayangkan bila hal ini direalisasikan di setiap desa khususnya di desa 3T, apa yang akan terjadi ? Nuansa gemar membaca akan terasa dalam setiap sudut desa. Kesadaran akan pentingnya pendidikan di kalangan masyarakat semakin menigkat. Pemerintah akan melirik hal ini sebagai batu loncatan ke arah pendidikan yang lebih baik. Masyarakat melalui LSM, para pemerhati pendidikan mendapatkan lahan yang lebih luas untuk menyalurkan bantuannya, yang paling sederhana berupa buku. Pada akhirnya, dengan optimisme, pendidikan di desa 3T akan mengalami kemajuan yang pesat walau dari hal kecil berupa Taman Baca Terpadu.
Read More
    email this       edit